Menunggu Akhir
Wajah wajah tanpa dosa,
terpenjara sarang sendiri,
tak berdaya melawan naluri,
terpojok disetiap sudut kota,
berharap teror akan sirna.
Bulir demi bulir beras tiada,
Tertukar peluh yang tak menghasilkan lembaran merah,
Dalam putus asa mereka terdiam,
Dalam lantunan doa mereka berharap,
Tak jarang tangisan kaki-kaki kecil menggema,
Tidak mau terbelenggu waktu,
Semakin lama, semakin berlalu,
Kebebasan senyum pun terrampas,
Belum lagi tirani yang diombang ambing kebingungan,
Entah kemana nahkoda akan membawa,
Menghadapi paranoid yang entah bagaimana,
Sedangkan jutaan mulut menganga,
jutaan raga tersungkur tak berdaya,
diterpa badai yang entah dari mana.
Yogyakarta, 08 Mei 2020
Postingan ini dilisensikan di bawah CC BY 4.0 oleh penulis.